Mungkin kita semua pernah yang namanya “menunggu” dan “membenci” kehadiran seorang guru dalam ruang kelas kita.

ya, itu sudah menjadi rahasia umum jika seorang guru, pastinya akan senantiasa “ditunggu” atau “dihindari” kehadirannya dalam ruang kelas, saat kita masih sekolah.

 

Tidak banyak memang, seorang pengajar bisa menjadi yang “slalu” ditunggu. Mungkin perbandingan 1:100 dari pengajar yang ada. Baik itu dari faktor cara mengajar dan “ubo rampe” yang melekat pada seorang guru, ataupun dari rasa mood dari peserta didik sendiri.

Jika kita pernah belajar tentang ilmu pendidikan, seorang pendidik, pastinya pernah dan wajib mempelajari bagaimana menghadirkan suasana yang membangkitkan suasan belajar yang penuh semangat, jauh dari suasana membosankan yang pada ujung-ujungnya ya, tujuan penyampaian materi itu sendiri bisa diterima ataukah tidak.

Bagaimanakah kita sebagai seorang guru, untuk bisa menghadirkan suasan yang menyenangkan itu?

ya, ini mungkin menjadi pertanyaan besar yang tidak bisa dirumuskan secara pasti laksana dalam matematika 1+1 = 2.

Kenapa demikian, karena suasana menyenangkan yang bisa dihadirkan itu bisa bermacam-macam cara dan berbeda keadaannya. Sebenarnya yang paling tahu adalah pengajar tersebut.

Mungkin kita pernah melihat tanyakan dari acara Talk Show, dari sebuah stasiun swasta?

ya, disana pernah dihadirkan beberapa guru yang dianggap bisa menghadirkan suasana tersebut. Mungkin bagi kita yang cenderung apa adanya, bagaimana biasanya dalam mengajar, cara mereka mungkin dianggap nyleneh.

hahaha…. ini mungkin justru anggapan yang nyleneh. kenapa demikian? karena harusnya seorang pengajar emang nyleneh, dia harus berfikir diluar konteks belajar mengajar itu. Bagaimanakah saya bisa menghadirkan suasana yang beda dari biasanya?

ya, karena kita pastinya akan selaku terpaku dan selalu mengamati dengan apa yang namanya penampilan baru, cara baru dari yang umumnya. Begitu pula, peserta didik akan mengamati dengan apa yang kita sampaikan, karena berbeda dari biasanya/umumnya.

kemudian, kalo sudah bosan, maka peserta didik pastinya juga akan kembali lagi kepada rasa “terbiasa” dengan suasana.

 

Kemudian bagaimanakah kita dalam mengajar?

ada baiknya kita kembali mengingat sewaktu kita sekolah, apakah kita pernah “slalu” menunggu “penampilan” seoarang guru kita? pastinya paling tidak satu guru telah menyita perhatian sewaktu sekolah. dari sini, kita bisa berfikir, kenapa kita bisa tertarik dengan cara mengajar, atau apapun yang dilakukan guru kita?

Mungkin ada guru yang mengajar dengan memberikan show di awal tatap muka dengan suatu kejadian sehari-hari yang jarang diperhatikan.

Ada juga guru yang, selalu memberi nilai tambahan setiap akhir materi yang disampaikan. Jika seorang murid, bisa mendapatkan nilai tambahan sekian kali, akan dapat nilai tambahan di raportnya.

Ada juga yang dengan imajinasinya menghadirkan suasana ruang angkasa dalam ruangan gelap kelas yang telah disulap, walaupun dengan kemampuan terbatas dan fasilitas terbatas, tapi ini sudah merupakan menghadirkan suasana yang berbeda.

Kemudian bagaimana dengan kita? sudahkah kita “slalu” ditunggu?

Silakan menilai cara mengajar diri kita, sebelum peserta didik kita menilai kita. Dan akhirnya, tidak lebih dari dua pilihan, yaitu menjadi guru yang “slalu” ditunggu atau guru yang “slalu” dihindari?

 

* Pengalaman penulis saat mengajar.