Hahahaha…

Apa yang Anda bayangkan dengan sebuah kata “Ngotot”?

Saya percaya, Anda mungkin terbayang dengan kondisi orang yang sedang adu argument tentang suatu hal yang tidak begitu jelas benar ato salahnya, mungkin ibarat membicarakan duluan mana antara telur dan ayam.

Mungkin juga diantara Anda ada yang membayangkan “Ngotot” itu sifat orang yang tidak mau kalah saat berdebat dengan orang lain, walaupun pendapatnya itu salah. Susah memang kalo mengadapi orang kayak gini.

Tapi yang saya maksud dengan “Ngotot” disini adalah sebuah perjuangan yang saya lakukan manakala saya mencoba menjelaskan alas an yang saya pegang dalam “melawan” sebuah sikap orang lain dalam mengeluarkan keputusannya. Bingung??? Hehehehe, jangan bingung dong…

Okelah kalo begitu, saya gambaran dengan apa yang saya maksud dengan “Ngotot”.

Gini lho…

Saya itu teringat dengan beberapa hal yang saya alami saat saya mencoba untuk “Ngotot”. Dan saya merasa melakukannya untuk menghadapi situasi aneh tersebut.

Pertama, kejadian ini terjadi saat saya masih kuliah semester 7, klo tidak salah ya soalnya dah agak lupa.

Waktu itu, saya udah dua kali/dua semester ikut kuliah Teknik Digital. Yang pertama saya ikuti pada semester 5, dan hasilnya adalah mendapat nilai C. Karena saya merasa dengan nilai C itu adalah kurang bagi saya yang begitu sangat menyukai dunia 0 dan 1 (digital). Maka akhirnya pada semester 7, saya putuskan untuk mengulangi kuliah Teknik Digital. Dan kalo tidak salah, pada waktu itu, teman-teman saya satu kelas banyak juga yang mengulang, sehingga diadakan kelas tersendiri.

Setelah masa perkuliahan dimulai, saya merasakan sesuatu yang tidak beres nih. Karena pada awal masa kuliah ini, udah 2-3 kali jam kuliah, si dosen selalu terlambat bisa 1 jam. Itupun harus di ‘jemput’ di ruangannya. Karena saya pada waktu itu sebagai Komting/ketua kelas, dan saya bertanggung jawab atas perkuliahan di kelas, maka setiap jam kuliah dimulai, harus rajin ‘menjemput’ sang dosen.

Tahu gak??

Yang saya bikin jengkel itu, saat ditunggu mahasiswa yang siap kuliah, eh dia nya malah main game di ruangan. Mending game nya keren, game yang dimainin itu game anak kecil, yang nyari 2 gambar yg sama sampai abis itu lho… Rasa ubun-ubun ini udah kaya sumbu pabrik aj, dah gak mempan disiram air. Kadang klo tidak main game, si dosen malah tidur, gmn coba?

Dalam hati saya, orang gini kok bisa ya jadi dosen? Gmn dulu seleksinya?

Kuliah udah lewat, saya aktif ikut kuliah, ujian tengah semester, ujian akhir semester dan homework. Sekarang saatnya melihat hasilnya…

Saat melihat hasilnya, serasa kepala ini disambar petir, tahu kenapa? Nilai saya tidak keluar bersama dengan beberapa teman. Akhirnya dengan rasa yang bercampur aduk macem-macem, saya dan teman menemui sang dosen. Setelah ngomong-ngomong masalah sebab nilai tidak keluar, akhirnya saya diberi tahu kenapa nilai saya tidak keluar.

Dengan enteng, sang dosen bilang, kamu tidak ikut ujian akhir semester, lembar jawab kamu tidak ada. Wah ini yang bikin ngondok, masa dibilang gitu, padahal saya waktu itu ingat betul kalao saya ikut ujian akhir semester dan saya duduk di depan sang dosen yang tidur saat menunggui ujian. Kemudian saya Tanya ke beliau, Pak, klo boleh lihat saya minta ditunjukin daftar hadir saat ujian, karena saat itu saya ingat betul klo saya ikut ujian dan duduk didepan bapak. Dengan enteng sang dosen bilang, berkas ujian sudah tidak ada semua. sudah dibuang kali…

Yah, apa-apaan nih dosen satu ini, gerutu saya dalam hati.

 Ya udah kalao gitu, apa yang harus saya lakukan biar nilai saya keluar pak?.  Tanya saya dengan rasa harap.

Kamu dan beberapa teman kamu, cariin buku terbaru tentang Teknik Digital, nanti disrahin saya. Jawab sang dosen.

Wah ini apa-apaan ini? Dalam hati saya. Kemudian saya jawab: Pak, masa nilai saya ditukar dengan beli buku?, saya tidak mau pak? Saya minta tugas yang relevan saja. Jawab saya. Kemudian saya lanjutkan: ya misalnya bikin resume materi ato makalah gitu…

Setelah lama nego, akhirnya sang dosen setuju dengan permintaan saya untuk diganti dengan resume materi kuliah.

Setelah menyelesaikan tugas, keluarlah nilai saya. Saya tidak tahu, bagaimana proses nilai diolah sehingga bisa keluar. Tapi Alhamdulillah saya dapat nilai yang lebih baik dari semester sebelumnya untuk mata kuliah Teknik Digital.

***

Saya tidak habis pikir, apakah seorang pendidik yang demikian itu tidak memiliki rasa tanggung jawab ataupun panggilan hati untuk mengajar? Begitu mudahkah memberikan penugasan dengan sesuatu yang kurang relevan? Apakah tidak difikirkan sebelumnya, apa tujuan penugasan tersebut? Kenapa saya sebut demikian? Ya karena profesinya adalah pengajar… bukan yang lain.

Sebagai orang awam, saya merasa prihatin jika masih ada pengajar yang masih memberikan tugas yang kurang relevan.

Mungkin ada sebuah artikel yang menarik untuk disimak khususnya bagi pengajar. Link ini saya dapatkan atas kebaikan seorang teman yang peduli tentang dunia pendidikan.

Dua Jenis Guru

Semoga bermanfaat.