Pada kesempatan ini, saya mencoba membaca sebuah artikel dan kembali menuliskannya sesuai apa yang saya fahami. Kemudian untuk membaca secara utuh sesuai aslinya, dipersilakan langsung membaca pada artikel yang dimaksud.

Tegangan, Arus dan Hambatan

Seperti sudah dijelaskan pada bagian lain posting, bahwa sejumlah elektron yang bergerak disebut sebagai arus, dan diukur dengan dinyatakan dengan satuan Ampere. Sementara “tekanan” yang dimiliki elektron disebut sebagai tegangan yang diukur dalam volt. Di Indonesia, listrik pada umumnya memiliki nilai tegangan sebesar 220V.

Kita dapat mengukur jumlah penggunaan listrik jika diketahui besarnya arus dan tegangan, jumlah penggunaan listrik dinyatakan dalam watt-hours atau kilowatt-hours (KWH).  Sebagai sebuah ilustrasi, Anda ingin mengukur berapa banyaknya penggunaan listrik pada sebuah teko pemanas air. Diketahui bahwa teko pemanas air membutuhkan arus sebesar 10 Ampere, maka dalam hal ini dapat dihitung bahwa pemanas air tersebut membutuhkan listrik sebesar 2200 watt. Nilai ini didapatkan dari perkalian antara tegangan dan arus yang mengalir (220 volt dikalikan 10 Ampere). Ini berlaku juga untuk sebuah lampu yang dipasang.

 

Pemanas air membutuhkan 2200 watt (2,2 kilowatt). Jika Anda menyalakan pemanas air tersebut selama satu jam, maka Anda dikatakan telah menggunakan daya listrik sebesar 2,2 kilowatt-hour (2,2 KWH). Jika PLN mematok tarif listrik sebesar seribu rupiah tiap KWH, maka tagihan yang akan Anda bayar adalah sebesar Rp. 2.200,- untuk memanaskan air selama satu jam.

Selanjutnya, mari kita memasukkan faktor lain selain arus dan tegangan, yaitu hambatan (resistansi) yang dinyatakan besarnya dalam ohm. Kita dapat menggunakan analogi air untuk memahami hambatan dalam listrik. Tegangan ekuivalen dengan tekanan air, arus listrik ekuivalen dengan debit air, dan resistansi seperti ukuran pipa yang dilalui.

Rumus dasar yang dipakai adalah Hukum Ohm, yang menyatakan hubungan antara ketiganya. Arus adalah sama dengan tegangan dibagi hambatan, yang dituliskan:

I = V/R

dimana, I adalah arus (diukur dalam Ampere), V adalah tegangan (Volt), R adalah resistansi/hambatan (Ohm).

Misalnya Anda memiliki sebuah bak penampung air yang dialirkan pada dengan sebuah pipa. Kemudian Anda meningkatkan tekanan air pada bak, maka akan semakin banyak air yang keluar lewat pipa bukan? Ini sama halnya dengan sistem listrik, yaitu sama dengan menaikkan nilai tegangan akan menghasilkan arus yang semakin besar.

Sekarang, bagaimana jika diameter pipa selang, maka yang terjadi adalah semakin banyak air yang mengalir. Ini identik dengan mengurangi nilai resistansi pada sistem listrik, yang akan menambah jumlah arus yang mengalir.

Pada sebuah contoh yang dapat diamati pada sebuah lampu bohlam, Anda akan dapat menganalogikan air dengan cahaya lampu yang dihasilkan. Filamen yang ada pada lampu bohlam adalah sebuah kawat yang tipis, ini akan memberikan nilai resistansi yang tinggi dan menahan aliran elektron. Anda dapat menghitung nilai resistansinya dengan menggunakan rumus hambatan.

Katakanlah Anda memiliki sebuah lampu 220 watt. Tegangannya adalah 220 Volt, dan lampu tersebut mampu mengalirkan arus sebesar 1 Ampere. Anda dapat menghitung nilai resistansi pada sebuah kawat filamen dengan menggunakan rumus:

R = V/I

Sehingga didapatkan nilai resistansinya adalah 220 ohms.

 

sumber: http://www.howstuffworks.com/electricity7.htm

Demikian, semoga bermanfaat.