Dengan Hidroponik Berjuang Membenahi Desa

Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Ana (42 tahun) seorang petani hidroponik di Karawang sedang memanen hasil taninya, Sabtu (30/12). tirto.id/Jay Akbar

Tanaman hidroponik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membuat suasana desa lebih asri.
“Masyarakat di sini dulunya petani. Tapi setelah ada industri otomatis sawah habis. Masyarakat mau kemana?”
Ana (42 tahun) mengenang perubahan tempat kelahirannya Desa Kutanegara, Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang dengan nada suara masygul dan air muka pasrah. Menurutnya kehadiran ratusan pabrik di kawasan Karawang International Industry City (KIIC) tidak saja menyudahi sebagian besar sandaran hidup masyarakat, tapi juga berdampak tak sedap bagi lingkungan. “Begitu [industri] dimulai ada panas, debu, dampaknya gersang,” kenang Ana kepada Tirto Sabtu (31/12).
Namun bapak tiga anak ini sadar, keluhan tidak akan menyelesaikan persoalan. Dekade 2015 ia bersama sejumlah masyarakat desa lainnya mendatangi PT Daihatsu Astra Motor di KIIC. Mereka meminta perusahaan ikut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat. Kala itu Ana mengusulkan agar jalan menuju pintu masuk desa ditanami beragam jenis pohon buah-buahan. Usul itu dikabulkan.
“Ada sekitar 450 tahun yang ditanam di sepanjang 500 meter. Ada pohon belimbing, jambu, sawo, dan mangga,” ujar Ana.
Dua tahun sejak penanaman pertama, pohon-pohon itu tumbuh merindangi jalan. Gersang terselesaikan.
Persoalan selanjutnya adalah lapangan pekerjaan. Ana mengakui sejumlah perusahaan di KIIC membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk bekerja. Namun tak semua warga bisa memanfaatkan kesempatan itu lantaran terbentur persyaratan pendidikan. Ana mengatakan sebagian besar warga desa seusianya hanya lulusan sekolah dasar. Kalau pun ada yang berhasil dipekerjakan, paling banter hanya menjadi buruh bongkar muat perusahaan. “Saya tidak tamat SD. Cuma kejar Paket A. Waktu itu zaman susah,” kata Ana mengenang masa lalunya.
Awal tahun 2017 kesempatan memperbaiki kesejahteraan akhirnya datang. Salah seorang karyawan dari divisi Corporate Social Responsibility (CSR) Daihatsu Astra Motor menghubungi Ana. Sang karyawan memberi kabar tentang adanya pelatihan bercocok tanam menggunakan sistem hidroponik di kantor pusat Astra bilangan Sunter Jakarta Utara. Ana dipersilakan datang jika berkenan. “Tanpa pikir panjang bagaimana ongkosnya saya langsung berangkat. Karena [pelatihan] sifatnya ilmu,” ujar Ana.
Pelatihan berlangsung selama satu hari. Dari sana Ana mengaku mendapatkan dasar-dasar ilmu bercocok tanam bersistem hidroponik. Namun ia tidak percaya begitu saja dengan teori-teori yang diberikan. Dalam benaknya: “Masa iya bisa menanam pohon tanpa tanah.”
Didorong rasa penasaran dan keinginan mengakhiri problem kesejahteraan di desanya, Ana nekat mempraktikan ilmu yang ia dapat. Bermodal uang pribadi Rp3.000.000 untuk membeli pipa air sebagai media tanam, nutrisi tanaman, dinamo, dan beberapa perkakas lainnya ia mulai menanam aneka jenis sayuran. Pekarangan rumahnya menjadi “laboratorium” percobaan pertama.
Hasil coba-coba itu ternyata membuahkan hasil menggembirakan. Aneka sayur mayur mulai dari pakcoy, kangkung, selada bokor, bayam hijau, dan bayam merah tumbuh subur. Hasil panen pertamanya itu ia foto dan laporkan ke pihak Daihatsu melalui pesan whatsapp.
Menerima laporan Ana, pihak perusahaan merespons positif. Dana CSR sebesar Rp30.000.000 —yang dibagi dalam dua tahap— dikucurkan untuk Ana mengambangkan usaha. Ana memanfaatkan modal itu untuk mengakumulasi media cocok tanam hidroponik di pekarangannya. Sejak itu usaha hidroponik Ana semakin berkembang. Tak cuma menjual produknya di warung-warung sayur kampung, produk hidroponik Ana bahkan berhasil menembus supermarket ternama seperti Transmart dan Carrefour.
Ana menghitung satu pohon sayuran pakcoy yang ia tanam menghabiskan modal Rp600 dengan harga jual Rp2000. Apabila dalam sehari ia bisa bisa menjual 10 pohon pokcai di 15 warung kampung maka omzet perhari yang ia dapatkan adalah Rp300.000 dengan keuntungan bersih rata-rata Rp210.000 per hari. Belum termasuk untung dari kangkung, selada bokor, bayam merah, dan bayam hijau. “Ini sambil tiduran juga bisa hasilkan uang, kalau kita mau fokus,” ujarnya.
Perlahan masyarakat desa mulai melirik bisnis yang digeluti Ana. Kepada mereka Ana tak segan berbagi ilmu. Baginya semakin banyak masyarakat yang menggeluti bisnis hidroponik justru akan semakin baik. Sebab selain bisa mengangkat perekonomian masyarakat, ia juga bisa mengembangkan bisnisnya ke sektor penyediaan jasa pembuatan hidroponik, penjualan nutrisi dan bibit, serta pemasaran. “Ada sih yang ingatkan ilmu berharga jangan diumbar. Saya sih gak masalah,” katanya.
Ana mengatakan hidroponik merupakan sistem cocok tanam yang paling relevan untuk dikembangkan di desanya. Sebab sistem ini tidak membutuhkan lahan luas, bernilai jual tinggi, dan lebih menyehatkan untuk dikonsumsi karena terbebas dari pestisida. “Ini kan (sayuran hidroponik) secara umum konsumsi orang kaya. Dengan hadirnya di sini masyakat bisa merasakan. Sehingga kesehatan masyarakat lebih terjaga,” ujar Ana.
Di tahun 2018 Ana bertekad menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik. Ia memproyeksikan dari 43 gang yang ada di desa bisa ditanami 1.700 tanaman hidroponik. Ia melihat ribuan karyawan yang bekerja di kawasan KIIC merupakan potensi pasar yang besar. “Jangan bicara pemasaran ke luar dulu. Di sini ada ribuan karyawan, pasarnya belum tergarap dan tergali,” katanya.
Ana juga yakin tanaman hidroponik bukan saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya, tapi juga membuat suasana kampung lebih teduh dan asri. “Selain memberi nilai ekonomi masyarakat, hidroponik juga bisa untuk penghijauan,” ujarnya.
Tati salah satu pemilik warung di Desa Kutanegara mengakui sayuran pakcoy hidroponik dari Ana cukup digemari pembeli. Hal ini karena sayuran itu lebih segar dan harganya terjangkau. Ia menjual sayuran pakcoy dari ana sehargar Rp3000 perpohon. “Rasanya tidak pahit, beda dengan sawi biasa,” ujarnya.
Pinus Lingga dalam Hidroponik: Bercocok Tanam Tanpa Tanah menyebut istilah hidroponik digunakan untuk menjelaskan tata cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Model cocok tanam semacam ini menurutnya telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu oleh masyarakat Babilonia dan Cina.
Pada tahun 1936 istilah hidroponik diberikan untuk hasil tanaman tomat yang dikembangkan seorang agronomis Universitas California Amerika Serikat DR. WF. Gericke. Ia berhasil menanam tomat hingga setinggi tiga meter dengan buah melimpah dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya. “Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics [yang berarti] bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah,” kata Pinus.
Pinus mengatakan ada 10 keuntungan dari sistem cocok tanam hidroponik: 1) perawatan lebih praktis serta gangguan hama lebih terkontrol. 2) Hemat pemakaian pupuk. 3) Tanaman yang mati lebih mudah diganti dengan tanaman yang baru. 4) Tidak membutuhkan banyak tenaga kasar karena metode kerja lebih hemat dan memiliki standarisasi. 5) Tanaman dapat tumbuh lebih pesat dan dengan keadaan yang tidak kotor. 6) Hasil produksi lebih tinggi dan berkelanjutan. 7) Harga jual lebih tinggi. 8) Bisa dibudidayakan di luar musim. 9) Tidak ada risiko banjir, erosi, kekeringan, dan ketergantungan terhadap kondisi alam. 10) Dapat dilakukan pada lahan terbatas.
Departement Head CSR Astra Daihatsu Motor Rony Hapsoro mengatakan perusahaan bersedia menggelontorkan dana CSR kepada Ana dan warga Desa Kutanegara lantaran turut bertanggung jawab terhadap kondisi yang ada. Rony mengaku bangga dengan pencapaian yang telah dihasilkan Ana. Ia menyatakan perusahaan siap mewujudkan impian Ana menjadikan hidroponik sebagai identitas Desa Kutanegara. “Kami bermimpi menjadikan Desa Kutanegara sebagai desa hidroponik,” katanya.

sumber: tirto.id

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *