Memberi Makan Dunia Masa Depan. Apakah Hidroponik Jawabannya?

Jumlah populasi dunia tambah tinggi, itu berarti makanan yang dibutuhkan juga bertambah. Di lain pihak perubahan iklim menyebabkan pertanian di banyak kawasan tambah sulit. Mungkin bertani tanpa tanah jadi solusinya.
DW eco@africa - hydroponic farm in China (picture-alliance/Photoshot)

Mengatasi kekurangan pangan dengan hidroponik

Tantangan menyediakan makanan bagi planet yang tahun 2050 penduduknya akan bertambah 3 milyar orang, artinya tekanan besar untuk mencari jalan cara memberi makan planet. Jadi pertanian harus lebih produktif dan areal lebih luas harus ditemukan, terlebih di daerah beriklim kering. Salah satu solusi: hidroponik.
DW eco@africa - Carlos Mendes, 53, checks the products at his daughter's green house where they develop their hydroponics project, in Marco de Canaveses (Getty Images/AFP/P. De Melo Moreira)

Menanam di air

Menanam di lahan sempit tapi hasilnya banyak. Itu bisa dipenuhi hidroponik. Walaupun kedengarannya seperti ide dari masa depan. Sebenarnya bangsa Aztec di Meksiko sudah membuat pertanian mengambang di sekitar kota Tenochtitlan. Hidroponick artinya membesarkan tanaman tanpa tanah, dan hanya menggunakan campuran kaya nutrisi, mineral dan air.
DW eco@africa - red and blue led lights provide light for photosynthesis to grow an assortment of greens in a farm for the Great Northern Food Hall in Grand Central Terminal in New York (picture-alliance/Photoshot)

Memberikan dorongan tumbuh

Dengan hidroponik, tanaman tidak ditanam di tanah, melainkan ditempatkan pada penopang. Nutrisi diberikan ke akar-akar yang menggantung, dengan menggunakan sejumlah metode, termasuk menyemprot. Ditambah cahaya artifisial, pemanas dan peralatan lain, campuran nutrisi membantu tanaman tumbuh lebih cepat, memberi hasil yang lebih banyak, sepanjang tahun.
DW eco@africa - Salad is presented on a floating platform at the booth of Dry Hydroponics during the opening day of the Fruit Logistica trade fair in Berlin (Getty Images/AFP/T. Schwarz)

Hirodroponic efisien

Hidroponik bisa mengolah kembali air. Artinya, air yang digunakan hanya 10% dari air yang digunakan pertanian konvensional. Itu membuatnya jadi opsi ideal untuk kawasan yang kering. Karena sistemnya tertutup, nutrisi tidak menyebar ke tempat lain, melainkan diserap tanaman. Oleh sebab itu pupuk yang dibutuhkan hanya seperempat dari pertanian konvensional.
DW eco@africa - hydroponics on a roof garden in China (picture-alliance/dpa/ Photoshot)

Menanam vertikal

Jika menanam secara datar bukan opsi karena lahan sempit, menanam ke atas juga bisa. Baki pembiakan hidroponik bisa ditumpuk satu di atas lainnya. Oleh sebab itu lebih efisien dari segi lahan, daripada ditanam di tanah. Dengan demikian, pertanian hidroponik bisa diadakan di pencakar langit.
DW eco@africa - a hydroponic farm (Imago/View Stock)

Sisi negatif hidroponik

Pertanian hidropohik bisa rumit, butuh tenaga intensif dan mahal. Tanaman butuh nutrisi esensial dalam jumlah besar, dan pertanian perlu peralatan dalam jumlah besar. Panas dan cahaya diberikan secara bebas dari matahari pada pertanian konvensional. Untuk hidroponik bentuknya artifisial dan mahal. Jika aliran energi terputus, tanaman mungkin rusak sepenuhnya jika terlalu lama tanpa air dan cahaya.
DW eco@africa - A man works in a hydroponic tomatoes farm (Getty Images/AFP/S. Kambou)

Hidroponik sedang naik daun

Hidroponik secara teoretis bisa digunakan untuk semua tanaman, walaupun dari segi teknik paling baik untuk tanaman mentimun, selada hijau, tomat, lada dan berbagai rempah-rempah. Sejauh ini hidroponik belum banyak digunakan. Tapi tren mulai berubah. Pertanian hidroponik global diperkirakan bernilai $21.2 milyar 2016. Diperkirakan akan bertambah 7% setiap tahunnya. Penulis: Melanie Hall (ml/ap)
 
sumber: dw.com

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *