Iklan

Alat Terapi Kanker Warsito Sukses Diuji pada Tikus


Pekerja menunjukan teknologi Electronic Capacity Cancer Therapy (ECCT) buatan Warsito di CTECH Lab Edwar Technology, Tangerang Selatan, 11 Januari 2016. Alat tersebut mampu mendeteksi penyakit kanker dan diklaim pemerintah lebih canggih dari buatan Israel. TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

TEMPO.CO, Tangerang – C-Tech Labs mengklaim teknologi terapi kanker berbasis listrik yang dikembangkan Dr Warsito P. Taruno dan tim di PT C-Tech Lab Edwar Teknologi, ECCT atau Electro-Capacitive Cancer Therapy, mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus.

Paten ECCT diloloskan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia pada September 2017 dengan nomor IDP000047826. “Hasil riset terbaru, ECCT mampu menghambat laju pertumbuhan sel kanker pada tikus,” ujar Dr Firman Alamsyah, Kepala Laboratorium Biofisika, C-Tech Labs, melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo, Rabu, 4 Juli 2018.

ECCT pada hewan coba tikus yang diselenggarakan di Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada, dipublikasikan di Kongres Dunia 50 Tahun European Association of Cancer Research (EACR) yang diselenggarakan di Amsterdam, Belanda, pada 30 Juni-3 Juli 2018.

Klaim ini berdasarkan percobaan yang dilakukan bersama tim mahasiswa dan dosen Fakultas Biologi UGM terhadap 24 ekor tikus yang dibagi menjadi empat kelompok, masing-masing enam tikus, dua kelompok tikus yang diinduksi dengan tumor dan dua kelompok tikus placebo.

Satu kelompok tikus yang diinduksi tumor dan satu kelompok tikus placebo dilakukan pajanan medan listrik dari ECCT yang didesain dalam bentuk kandang tikus dengan intensitas mencapai 200mVolt/cm pada bagian tengah kandang, dengan frekuensi yang diberikan berkisar 100kHz hingga 300kHz.

Intensitas yang diberikan itu setara atau sedikit lebih rendah di bawah intensitas paparan listrik statis yang keluar dari smartphone pada umumnya. Pemaparan terhadap tikus dilakukan selama 10 jam per hari selama tiga minggu berturut-turut.

Riset yang dilakukan di fasilitas laboratorium milik Fakultas Biologi UGM selama 2017 ini merupakan tindak lanjut dari riset awal terhadap sembilan ekor tikus yang dilakukan di Bimana Indomedical bersama dengan peneliti Bimana dan Pusat Studi Satwa Primata IPB.

Saat ini, riset ECCT juga dilakukan di RS Dr Soetomo Surabaya untuk riset klinis yang dibiayai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Data yang dipublikasikan Firman menunjukkan tingkat penghambatan rata-rata dari pertumbuhan awal 0,121 cm2/hari berkurang menjadi rata-rata 0,01 cm2/hari atau rata-rata mencapai tingkat penghambatan hingga 92 persen secara volume.

Hasil lab darah dan patologi anatomi terhadap jaringan tumor tikus juga menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan pada fungsi ginjal dan liver, ritme jantung, dan jumlah hitungan sel darah pada tikus yang diinduksi tumor serta tikus sehat yang diberi pajanan medan listrik ECCT.

Hasil patologi anatomi jaringan tumor menunjukkan meningkatnya aktivitas sel darah putih (limfosit) dan sel makrofaji lebih dominan pada tikus yang diberi pajanan medan listrik.

Dr Firman mengklaim hal itu menandakan bahwa ECCT mendorong kerja sistem imunitas tubuh menjadi lebih aktif dengan memproduksi sel darah putih dan sel makrofaji lebih banyak untuk memakan dan menyerap sel-sel kanker yang sudah mati.

“Proses kematian sel kanker seperti ini bisa terjadi karena ECCT bekerja selaras dengan aktivitas sistem imunitas tubuh pada tikus, sehingga kematian yang terjadi berlangsung secara alamiah,” tuturnya.

Menurut Dr Warsito, frekuensi alat ECCT dirancang untuk menghasilkan medan listrik agar terjadi interaksi melalui mekanisme polarisasi listrik statis pada tingkat mikrotubula pada inti sel untuk mempengaruhi distribusi medan listrik pada tingkat molekuler inti sel kanker sehingga bisa mengacaukan pembelahan sel dan mendorong sel kanker melakukan self-destruction (bunuh diri).

Hasil penelitian pada tikus di UGM menunjukkan proses kematian sel kanker yang berbeda-beda, yang secara umum dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, proses lysis (luruh) yang ditandai dengan nodul tumor yang berangsur-angsur mengecil hingga hilang.

Kedua, proses detachment (lepas) yang ditandai dengan proses nodul tumor yang berangsur-angsur menghitam, mengering, dan lepas dari posisinya, meninggalkan luka terbuka yang kemudian berangsur-angsur mengering dan menutup dengan sendirinya.

Terakhir, proses kistik, yang ditandai dengan nodul padat yang berubah menjadi kista cair (nekrosis) dengan volume yang cenderung membesar tapi melunak/mencair.

Warsito menjelaskan, medan listrik yang dihasilkan alat ECCT berinteraksi dengan listrik statis yang mengalami polarisasi cukup tinggi pada molekul mikrotubula di dalam sel kanker yang sedang membelah.

Mikrotubula adalah benang-benang serabut, yang disebut spindle, yang bekerja sangat intens selama proses pembelahan sel untuk memisahkan kromosom yang telah mengalami duplikasi menuju ke kedua kutub sel untuk membentuk dua inti sel yang identik.

Mikrotubula adalah struktur makromolekul yang disusun oleh gabungan senyawa yang lebih kecil, yang disebut tubulin dimer, yang tersambung satu dengan yang lainnya secara ikatan listrik statis. Akibatnya, secara kimiawi, strukturnya relatif stabil, tapi secara fisika mudah rusak oleh pengaruh medan listrik dari luar.

“Medan listrik yang dibangkitkan oleh alat ECCT menghasilkan gaya momen listrik yang bekerja sebagai electric-scissors (gunting listrik) yang menimbulkan electric-shear force (gaya geser) yang memutus ikatan listrik statis pada struktur molekul mikrotubula pada saat sel sedang membelah,” kata Warsito.

“Pada saat sel sedang diam atau tidak sedang membelah, mikrotubula tidak dalam posisi yang ‘terentang’ sehingga tidak mudah diputus oleh ‘gunting listrik’ dari alat ECCT. Karena itu, ECCT hanya bekerja pada saat sel sedang mengalami pembelahan,” ucap Warsito.

“Pembelahan sel bisa terjadi baik pada sel kanker maupun sel sehat, tapi pembelahan sel kanker terjadi lebih massif sehingga efek destruktif terhadap sel kanker lebih besar,” tuturnya.

Warsito juga menambahkan bahwa gaya momen listrik yang bekerja sebagai “gunting listrik”, selain dipengaruhi tingkat polaritas sel kanker yang berbeda berdasarkan jenis sel, dipengaruhi oleh sifat dielektrika jaringan sekitar sel kanker.

Kekuatan gaya momen listrik ini, yang dipengaruhi oleh jenis sel kanker dan jaringan sekitar tempat sel kanker berada, kemungkinan yang menentukan proses bagaimana sel kanker mati, atau bisa juga tidak cukup bisa mati apabila gaya momen listrik ini tidak cukup kuat.

“Hasil riset tikus yang menunjukkan bahwa ECCT bekerja selaras dengan sistem imunitas tubuh membuka potensi pengembangan terapi baru terhadap kanker dengan menggabungkan ECCT dengan metode immunotherapy,” kata Warsito.

Terapi imunitas mulai populer beberapa tahun terakhir setelah mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, meluncurkan National Cancer Moonshot pada 2016 dengan metode terapi imunitas sebagai pilar utamanya.

PT C-Tech Labs pada beberapa tahun yang lalu juga giat membangun kerja sama pengembangan metode terapi ECCT digabungkan dengan terapi imunitas dengan dokter peneliti klinis di beberapa negara, antara lain Polandia, Jepang, dan Jerman.

sumber: Tekno Tempo.co.

Iklan

Perlunya Pengaturan Nutrisi dalam Sistem Hidroponik


  • Dalam praktik, teknik mengatur larutan nutrisi adalah berdasarkan pengaturan dua variabel. Tingkat keasaman (pH) dan Electric Condutivity (EC).
  • Pengaturan pH dan EC secara berlanjut dalam sistem hidroponik tertutup akan menyebabkan akumulasi beberapa elemen mineral dalam larutan nutrisi. Sehingga sebagai konsekuensinya, larutan nutrisi akan mencapai titik dimana larutan tidak dapat lagi di sesuaikan dan harus diganti dengan yang baru.
  • Dengan meningkatkan waktu penggunaan larutan nutrisi dalam sebuah sistem hidroponik tertutup maka akan mendapatkan keuntungan secara ekonomi yang besar pada penghematan penggunaan air dan pupuk. Hal ini hanya dapat dicapai dengan pencapaian pemberian pupuk yang tepat sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Dalam sebuah penelitian ingin mengetahui bagaimana teknik untuk mensimulasikan kebutuhan setiap elemen dalam larutan nutrisi dibutuhkan oleh sebuah tanaman. Penelitian dilakukan dalam sebuah sistem hidroponik sistem tertutup seperti berikut:

Pada penelitian ini masing-masing konsentrasi NO2, P2O5, K, Ca, Mg dan Fe diukur menggunakan Photometer setiap dua hari sekali. Sekali dalam satu hari pH dan EC diukur dan disesuaikan dengan menggunakan HNO3 dan atau H2PO4 dan air.

 

Dari hasil observasi yang dilakukan:

Ketersediaan Ca dan Fe3+

  • Secara cepat Ca tidak ditemukan  sesuai dengan konsentrasi yang diharapkan dalam lauran. Ca hanya mencapai konsentrasi yang ditentukan dalam beberapa hari setelah dimulai. Hal ini bukan karena terjadi saturasi air, karena ketersediaan air cukup banyak dan secara teori ketersediaan Ca(NO3)2 dalam jumlah banyak akan memenuhinya.
  • Konsentrasi Fe3+ turun sangat cepat setelah larutan disiapkan. dan tren penurunan konsentrasinya selalu diikuti tren yang sama dan tidak berhubungan dengan parameter cuaca atapun penyerapan mineral oleh tanaman.

Demikian, semoga bermanfaat. Salam Hidroponik Indonesia.

 

referensi:

Dynamic Simulation of Nutrient Solution Composition in a Closed Hydroponic System (P. Giaglaras, Ch. Lykas, C. Kittas)

Berbasis Teknologi Electro Capacitive (Saudara Kembar ECCT) untuk Atasi Obesitas – cSport


cSport® C-TECH Sport Wear® adalah teknologi non-contact reflexiology berbasis stimulasi medan listrik statis yang dinamai ElectroCapacitive Body Stimulation (ECBS) (ID Paten, 2012), bekerja untuk memberikan stimulasi pada jaringan tubuh guna melancarkan peredaran darah, meningkatkan metabolisme otot dan organ tubuh. cSport® adalah jaket yang mempunyai efek olah raga, bukan untuk pengobatan, berfungsi membantu pembakaran lemak dan kalori dalam kondisi diam, istirahat atau sambil melakukan aktifitas lain secara normal.

MEKANISME KERJA
cSport C-TECH Sport Wear

Berbasis Electro-Capacitive Body Stimulation (ECBS)

cSport adalah jaket medan listrik yang didesain berbasis Electro-Capacitive Body Stimulation (ECBS) untuk dikenakan di luar baju sambil melakukan kegiatan sehari-hari. ECBS merupakan teknologi stimulasi otot dan organ tubuh dengan menggunakan medan listrik statis lemah bertenaga baterai, bekerja melalui proses induksi dan polarisasi listrik kapasitansi terhadap jaringan tubuh yang bersifat dielektrika. Berbeda dengan EMS (Electro-Muscle Stimulation) yang menggunakan tegangan dan arus yang relatif lebih tinggi dengan elektroda yang menempel langsung pada kulit, ECBS tidak mengalirkan arus ke dalam tubuh, tanpa elektroda yang menempel
langsung ke kulit.

Download Katalog.

 

Sumber: http://csport.c-techlabs.com/

Normalized Difference Vegetation Index (NDVI)


 

 

 

 

 

Kumpulan Gambar Hidroponik


mulailah-membudidayakan-tanaman-obat-secara-hidroponik

 

IMG_1122

 

terong box

 

cabe1 cabe2(http://bibitbunga.com/blog/cara-menanam-cabe-hidroponik-menggunakan-polybag/)

 

Bertanam Cabe Hidroponik


Literatur Review

Pada posting ini saya mencoba melakukan pengumpulan referensi yang dapat dipelajari terkait dengan menanam cabe secara hidroponik.

Budidaya Tanaman Hidroponik Cabe memiliki beberapa keuntungan utama dibandingkan dengan budidaya tanaman cabe secara konvensional, antara lain  :

  • Tidak memerlukan tanah yang subur, karena teknik budidaya tanaman secara hidroponik hanya menggunakan air sebagai media tumbuh tanaman. Sehingga kita tidak memerlukan lahan yang selalu subur untuk dapat berbudidaya tanaman cabe.
  • Pertumbuhan tanaman lebih optimal, tanaman hidroponik cabe dapat tumbuh lebih optimal dibandingkan tanaman cabe konvensional. Hal ini dikarenakan nutrisi yang tersedia didalam air, dapat diserap secara maksimal oleh tanaman. Sehingga pertumbuhan lebih cepat dan optimal.
  • Hama tanaman lebih mudah dikontrol. Teknik hidroponik akan memudahkan petani untuk melakukan kontrol terhadap serangan hama, hal ini dikarenakan lingkungan tumbuh yang bersih sehingga meminimalisir pertumbuhan hama atau penyakit yang dapat merugikan tanaman.
  • Masa panen tanaman yang lebih panjang dan optimal. Tanaman hidroponik cabe mampu menghasilkan panen sepanjang bulan, setelah melewati masa vegetatif selama 3 bulan. Pada masa generatif, tanaman cabe hidroponik akan mampu terus memberikan hasil panen ketika nutrisi yang diperlukan tanaman tersedia dengan baik. Sehingga hasil panen akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman cabe konvensional.
Disamping beberapa keutamanan tanaman hidroponik cabe tersebut, budidaya secara hidroponik juga memiliki beberapa kekurangan, yakni nilai investasi pertama yang cukup mahal, Karena harus membeli beberapa peralatan dan nutrisi.
Sistem hidroponik yang paling sesuai digunakan dalam tanaman hidroponik cabe adalah sistem Dutch Bucket. Dengan sistem ini, tanaman cabe akan mampu tumbuh dengan maksimal karena memiliki ruang tumbuh akar yang cukup luas. Dengan space tersebut, akar dapat bekerja dengan maksimal dapat menyerap dan menyalurkan nutrisi, sehingga hasil panennya pun akan maksimal.
tanaman-hidroponik-cabe
Langkah-langkah persiapan penanaman adalah sebagai berikut.
Pemilihan Benih Cabe

Rendam benih cabai  dalam air hangat selama kurang lebih 3 jam. Biji yang tenggelam pada umumnya lebih
baik untuk ditanam dibanding yang tidak tenggelam.

Penyemaian Benih Cabe

1. Pembuatan Media Semai

Campur tanah bagian atas (/top soil/ atau berhumus) dengan pupuk kompos
atau pupuk kandang dan arang sekam dengan komposisi perbandingan 1:1:1.
Masukkan media semai ke dalam polybag
mini (ukuran 8 x 9 cm). Anda juga dapat menggunakan baki (/seedling
tray/) .

2. Penanaman Biji

Tanam setiap biji cabe ke dalam polybag mini (satu cabai dalam 1
polybag). Buat lubang sedalam 0,5 cm di tengah media semai. Media semai
dibasahi sedikit untuk menjaga kelembaban.

3. Perawatan Bibit

Bibit disiram setiap pagi dan sore hari menggunakan semprotan halus agar
tidak merusak bibit dan media semai. . Tips penyiraman: Tutup permukaan
polybag dengan kertas koran kemudian siram kertas koran hingga basah.
Kertas koran dibuka setelah biji tumbuh yaitu sekitar 3 hari.

Bibit cabe siap dipindahkan ke media tanam hidroponik kultur polybag
setelah 21-24 hari atau setelah bibit cabe memiliki 4-5 helai daun.
Bibit harus dirawat dan dijaga dari gulma. Jika ada gulma segera lakukan
penyiangan.

2. Metode Hidroponik dengan Kultur Polybag

A. Penyiapan Lahan dan Peralatan Hidroponik

Siapkan tempat untuk kegiatan bercocok tanam hidroponik. Kemudian pasang
peralatan hidroponik seperti bak/wadah nutrisi, selang pompa utama/pipa,
dan selang-selang plastik. Jumlah selang plastik disesuaikan dengan
jumlah polybag yang akan Anda gunakan. Setiap polybag dipasang 1 selang
plastik. Selang-selang plastik dihubungkan pada selang pompa utama bak
nutrisi.

Metode Hidroponik dengan Kultur Polybag

B. Penyiapan Wadah dan Media Tanam

Polybag ukuran 40 cm disarankan untuk digunakan untuk penanaman cabe
(minimal ukuran polybag di atas 30 cm). Media tanam yang disarankan
untuk cabe adalah campuran antara arang sekam dan pasir dengan
perbandingan 2:1. Campuran arang sekam dan pasir dapat menahan larutan
nutrisi dengan baik dan campuran keduanya memiliki aerasi yang baik.
Masukkan media tanam ke dalam polybag dan beri lubang di tengah-tengah
media dengan kedalaman 5-7 cm. Anda juga bisa menggunakan rockwool
sebagai media tanam, namun harga media ini relatif mahal.

C. Pemindahan dan Penanaman Bibit

Lakukan pemindahan bibit secara hati-hati jangan sampai merusak akar
tanaman. Robek polybag mini tempat penyemaian, pindahkan bibit dan media
semai seluruhnya ke dalam lubang media hidroponik di polybag besar.
Pemindahan bibit disarankan pada saat sore hari saat matahari tidak
terlalu menyengat. Bibit akan tampak layu setelah 2-3 hari pemindahan
namun akan segar kembali asalkan perakaran masih baik (tidak ada akar
yang terluka).

D. Pemberian Larutan Nutrisi

Susun polybag secara teratur. Letakkan selang-selang plastik pengalir
nutrisi pada masing-masing polybag. Larutan nutrisi harus mencukupi
kebutuhan nutrisi tanaman. Unsur makro seperti N, P , K, Ca, dan Mg
harus dipenuhi. Anda dapat menggunakan pupuk AB mix, atau pupuk hidroponik
lainnya (anorganik maupun organik). Campur pupuk dengan air di bak
nutrisi, lalu alirkan larutan nutrisi ke masing-masing polybag yang
berisi bibit tanaman cabe.

E. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman yang utama meliputi penyiraman, pengajiran, dan
pemangkasan. Penyiraman tanaman cabe dengan larutan nutrisi dilakukan
sebanyak 5-8 kali sehari. Anda disarankan menggunakan timer pada selang
pompa utama agar tidak memerlukan tenaga ekstra.

Larutan nutrisi yang diberikan sebaiknya dilakukan dengan cara irigasi
tetes atau fertigasi. Larutan nutrisi yang diberikan jangan dalam jumlah
banyak sekaligus, namun sedikit-demi sedikit asal cukup membasahi media
tanam di polybag.

Pemeliharaan Cabai Hidroponik

Pengajiran dilakukan pada tanaman yang kurang lebih berumur 1 minggu
atau memiliki tinggi kurang lebih 20 cm dengan menggunakan tongkat
bambu. Ajir berfungsi sebagai media penopang tanaman agar dapat tumbuh
tegak. Ajir diletakkan di media tanam dengan jarak kurang lebih 4 cm
dari pangkal batang. Pemangkasan tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak
daun mencegah tanaman tidak tumbuh ke sampingketika batang belum terlalu
kuat menopang. Lakukan pemangkasan pada hari ke-20 setelah tanam.

Demikian tahap-tahap utama dalam penanaman cabe dalam polybag dengan
metode hidroponik. Saat melakukan penanaman, perhatikan kondisi optimal
tanaman cabe. Tanaman cabe menyukai suhu 24-28oC, kelembaban 80%, kadar
pH 6-7, curah hujan 800-2.000 mm per tahun, dan intensitas cahaya
matahari sekitar 70%. Perawatan teratur akan membuat tanaman tumbuh
subur. Jika timbul hama dan gulma segera lakukan penyemprotan pestisida
(disarankan yang alami) dan penyiangan.

Sumber:

Mengukuran Kuat Medan Listrik Dengan EMF Meter


Pengukuran medan listrik (Electric Field) adalah pengukuran ambient (sekitar) medan elektromagnetik yang dilakukan dengan menggunakan sensor tertentu atau probe, seperti EMF meter. Probe ini secara umum dapat dianggap sebagai antena meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Bahkan probe tidak harus mengganggu bidang elektromagnetik dan harus mencegah kopling dan refleksi sebanyak mungkin untuk mendapatkan hasil yang tepat. Ada dua jenis utama dari pengukuran EMF:

  • pengukuran broadband dilakukan dengan menggunakan probe broadband, yang merupakan perangkat untuk menangkap sinyal di berbagai frekuensi dan biasanya dibuat dengan tiga detektor dioda independen;
  • pengukuran dengan pemilihan frekuensi di mana sistem pengukuran terdiri dari antena medan dan spektrum analyzer yang memungkinkan untuk memantau rentang frekuensi tertentu.

Probe EMF ada yang hanya mampu membaca satu bidang pada sebuah sumbu tertentu, atau mungkin tri-aksial secara langsung sehingga dapat menunjukkan arah dari medan secara langsung.

 

Pengukuran Ideal Isotropik (Keseragaman Dalam Segala Arah)

Pengukuran EMF yang diperoleh dengan menggunakan sensor E-field atau H-field yang isotropik maupun mono-aksial, pasif atau pasif. Mono-aksial, probe dengan satu arah adalah perangkat yang menangkap listrik (short dipole) atau medan magnet terpolarisasi pada arah tertentu.

Menggunakan probe mono-aksial memerlukan tiga pengukuran yang diambil dengan sumbu sensor yang diatur pada tiga arah yang saling orthogonal, dalam konfigurasi X, Y, Z. Sebagai contoh, dapat digunakan probe yang membaca komponen medan listrik sejajar dengan arah dari sumbu simetri. Dalam kondisi ini, di mana E adalah amplitudo medan listrik, dan θ adalah amplitudo sudut antara sumbu sensor dan arah medan listrik E, sinyal terbaca sebanding dengan | E | cos θ (kanan). Hal ini memungkinkan untuk memperoleh total amplitudo yang benar dari medan dalam bentuk:

Sebuah probe isotropik (tri-aksial) memudahkan langkah pengukuran diatas, karena total pengukuran dapat ditentukan dengan tiga langkah pengukuran tanpa mengubah posisi sensor. Sensor yang diatur sedemikian rupa secara orthogonal satu sama lain.

Meter

EMF meter adalah instrumen ilmiah untuk mengukur medan elektromagnetik (disingkat EMF). Kebanyakan meter mengukur kerapatan fluks elektromagnetik radiasi (bidang DC) atau perubahan medan elektromagnetik dari waktu ke waktu (bidang AC), pada dasarnya sama dengan antena radio, tetapi dengan karakteristik deteksi sangat berbeda.

Dua model yang umum adalah sumbu tunggal dan tri-axis. Meter sumbu tunggal lebih murah daripada tri-axis meter, tetapi memakan waktu lebih lama untuk menyelesaikan survei karena meteran hanya mengukur satu dimensi dari medan. Instrumen sumbu tunggal dibuat miring dan dihidupkan semua tiga sumbu untuk mendapatkan pengukuran penuh. Sebuah meter tri-axis mengukur semua secara simultan, tetapi model ini cenderung lebih mahal.

Medan elektromagnetik dapat dihasilkan oleh arus AC atau DC. EMF meter dapat mengukur medan elektromagnetik AC, yang biasanya dipancarkan dari sumber buatan manusia seperti kabel listrik, sedangkan gaussmeters atau magnetometer mengukur medan DC, yang terjadi secara alami di medan geomagnetik bumi dan dipancarkan dari sumber lain di mana terdapat arus searah.

EMF Meter: EMF-839 Lutron

Peraturan Mengenai Medan Listrik dan Magnet

Sampai saat ini tidak ada batas paparan yang pasti yang dapat dijadikan patokan sehingga dapat menyebabkan penyakit kanker. Rekomendasi yang ada saat ini adalah batasan ekstrim yang terjadi dalam waktu jangka pendek.

ICNIRP dan IEEE telah menetapkan batas paparan EMF untuk pekerja dengan exposure EMF serta untuk umum, tanpa menentukan durasi maksimum. ACGIH telah membentuk batas paparan hanya untuk pekerja yang berlaku untuk paparan maksimum dari delapan jam sehari.

Listrik dan medan magnet menginduksi arus yang sangat lemah pada tubuh manusia. Tujuan dari tingkat eksposur maksimum yang direkomendasikan oleh ICNIRP tersebut, IEEE dan ACGIH adalah untuk membatasi arus induksi ini ke tingkat yang tidak ada risiko kesehatan.

Pada saat ini, belum ada teknologi yang memungkinkan kita untuk mengukur arus induksi ke dalam tubuh secara langsung. Namun, intensitas arus induksi dapat diperkirakan dengan menggunakan model dari tubuh manusia dari berbagai kompleksitas. Kemungkinan lain adalah untuk menghitung tegangan induksi bukannya arus induksi, seperti yang telah dilakukan IEEE.

 

Batas Paparan Direkomendasikan

  1. Batas paparan medan listrik pada frekuensi 60 Hz

tabel EMF1

  1. Batas paparan medan magnet pada frekuensi 60 Hz

tabel EMF2

Data lebih lengkap adalah sebagai berikut:

General Public

Frekuensi e-field strength (V/m)
3 – 150 kHz 87
0.15 – 1 MHz 87
1 – 10 MHz 87/f^1/2
10 – 400 MHz 28
400 – 2000 MHz 1.375 x f^1/2
2 – 300 GHz 61

 

Occupational (tempat kerja)

Frekuensi e-field strength (V/m)
65 – 1000 kHz 610
1 – 10 MHz 610/f
10 – 400 MHz 61
400 – 2000 MHz 3 x f^1/2
2 – 300 GHz 137

 

Pengukuran Medan Listrik ECCT

Pengukuran medan listrik pada ECCT dilakukan dengan menggunakan alat EMF Meter Lutron EMF-839.

Petunjukan Keselamatan Pengoperasian

Bahaya bagi pekerja yang mengoperasikan alat terutama yang menggunakan implant electromagnetic (misalnya, alat pacu jantung) dapat menimbulkan bahaya pada beberapa kasus.

Harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan badan/pemerintah lokal terkait peralatan yang digunakan.

Sebelum menggunakan peralatan, perlu memahami bagaimana cara mengatur nilai “limit-alarm” (lihat halaman 12 pada buku Operation Manual EMF-839 Lutron).

Perhatian:

Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa berada pada radiasi medan listrik dalam waktu yang lama dapat menyebabkan childhood-leukemia dan penyakit kanker.

Tanya dan jawab terkait permasalahan ini tidak disediakan. Dianjurkan untuk menghindari kontak dengan radiasi medan listrik dalam waktu yang lama.

Tanya jawab yang lebih lengkap yang berhubungan dianjurkan untuk merujuk pada badan yang mengaturnya, dianjurkan EPA-USA sebagai referensi.

 

Langkah-langkah Pengukuran Medan

Pasangkan power supply 12V pada konektor disebelah kanan alat

IMG_20151105_100228 IMG_20151105_100306

Pilih card dengan range frekuensi sesuai dengan frekuensi 100 KHz, yaitu card dengan range 100 KHz – 100 MHz

IMG_20151105_100403

Pasangkan card pada slot bagian atas EMF meter dengan menekan kedalam sampai terpasang dengan benar

IMG_20151105_100433 IMG_20151105_100454

Pilih probe sesuai dengan range frekuensi 100 KHz, yaitu probe dengan range 100 KHz – 100 MHz

IMG_20151105_100509 IMG_20151105_100523

Pasangkan probe pada konektor dibagian atas EMF meter disebelah slot card, putar bagian bawah untuk mengunci agar probe terpasang dengan aman

IMG_20151105_100605 IMG_20151105_100616

Pasangkan adaptor pada steker AC PLN

IMG_20151105_100653

Tekan tombol POWER berwarna biru, untuk menyalakan EMF meter, sampai muncul angka 0.00 yang menunjukkan bahwa EMF meter siap digunakan

IMG_20151105_100713 IMG_20151105_100724

 

Letakkan probe EMF meter dibelakang Apparel untuk mengukur medan listrik dari Apparel. Baca nilai terukur pada display EMF meter.

IMG_20151105_101222

 

Referensi:

Electric and Magnetic Fields : Exposure Limit. http://www.hydroquebec.com/fields/limites-exposition.html

EMF Measurement. https://en.wikipedia.org/wiki/EMF_measurement

 

 

 

%d blogger menyukai ini: